Euforia pemilu masih panjang. Pasca ‘peristiwa bersejarah’ pencontrengan Pemilu 9 April lalu, yang hot yang tentu hasil seremonis nasional setengahwinduaan ini.
Setelah hasil hitung cepat keluar dan selesai (yang mana dari pada hasilnya anda sesungguhnya suda mengetahuinya), maka kini giliran real count (atau hitung nyata?). KPU memusatkan penghitungan real yang diberinama pusat tabulasi nasional pemilu (TNP) ini di Hotel Borobudur, sama seperti 5 tahun lalu.
Singkat cerita, oleh redaktur diberi tugas ke sana. Lumayan keren. Jarang-jarang bisa ke datang pusat tabulasi. Masuk sebagai pers (dapat name tag lagi hehehe), lalu main goda-godaan sebentar dengan recepsionisnya. Begitu sampai ke ruangan, ternyata masih sepi (entah sudah atau sedang sepi?). Ruangan berbentuk aula itu masih lenggang, paling yang ramai ada di dua meja panjang yang terdapat kurang lebih 28 unit komputer untuk menjelajahi data hasil pemilu (seharusnya) dan menjelajahi dunia maya (kenyataannya).
Karena ditugaskan hunting on the spot, mencari berita apa saja yang ada di tempat, melihat kondisinya seperti ini, bisa dipastikan bakalan mati gaya. Sambil keliling-keliling ruangan, mampir ke bilik sebelah. Ternyata kantin dan …….ahhhh, boleh makan gratis! Kelihatannya enak pula! Hiks, padahal sebelum berangkat sudah makan dari rumah. Sudah penuh lambung ini hingga gerombolan cacing pun tak berhasrat mendemo. Mau menuruti hawa nafsu? Ah, forgot it. Orang Yahudi itu makannya dua kali porsi orang Muslim. I wont be neither Jew nor they habit.
Saat lagi asyik duduk-duduk menunggu Ilham (ngapain juga ya si Ilham ditungguin), tiba-tiba ada yang mendekati.
“Emmm, Wiwiet bukan? Dari Koran Jakarta kan?” tanyanya ramah
Oh, senior ternyata, ID Press nya yang bilang begitu.
“Iya, mba, lho mba lagi ngeliput di sini juga?” pura-pura sok akrab (padahal lupa namanya!).
Setelah ngobrol-ngobrol, namanya Chacha (and she request not to add mba when call her). Chacaha sedang ditugasi untuk membuat feature yang terkait dengan Pusat Tabulasi Nasional ini. Terinspirasi Chacha, saya kemudian bertanya ke resepsionis perihal ketua Media Center (soalnya baca berita di internet, pak kepala media center ini yang paling sering ditanyai). Lalu kemudian di antarlah ke tempat Media Centre-nya.
Walaupun ketuanya tidak ada, yang penting ada anggotanya untuk dikilik berita. Pertama-tama, bertanya kok TNP jam 11 malam sudah ditutup, lalu kanapa data yang masuk lama sekalia, konon operatornya kurang? Sialnya, petugas Media Center itu menolak menjawab lantara itu bukan ranah mereka. Tugas Media Centre adalah memfasilitasi para kuli tinta informasi yang menyangkut data hasil tabulasi. Bila menyoal pada teknis penginputan data dan penyelenggaraan TNP ini, itu merupakan tanggung jawab pihak lain.
Dari anggota Media Center KPU ini, saya baru tahu kalau penyelenggara TNP adalah pihak ketiga. KPU menunjuk sebuha event organizer untuk menyelenggarakannya. Sementara soal teknis pemasukan data dan teknologinya, itu urusan Telkom dan BPPT.
Tapi ada cerita menarik nih soal EO TNP, Si Laksmindo ……. (lupa kepanjangannya). Jadi, sepertinya antara Media Centre KPU dan Laksmindo there were missing link. Ada, entah itu salah komunikasi atau salah persepsi. Menurut, Media Centre, sebagai penyelenggara, seharusnya Laksmindo punya desk khusus untuk meladeni wartawan atau siapapun itu yang mencari berita dan informasi. Nyatanya mereka tidak punya, dan Media Centre KPU kemudian ditugaskan untuk mem-back up hal ini.
Dari perbincangan saya dengan beberapa anggota Media Centre, expression given off mereka terlihat kalau mereka kurang respek, minimal komunikasinya berjalan kurang lancar. Ini memang opini, makanya tidak layak ditulis sebagai berita. But, sure, it clear enough that Media Center officers has an unrespectable perspective with the EO. Dari mereka juga saya tahu bahwa EO TNP merupakan pemain baru dalam penyelenggarakan even pemilu. Makanya, saat saya bilang ingin bertanya lebih jauh salah seorang petugas Media Center mengatakan “Jangan terlalu berharap banyak mereka bisa menjawab. Soalnya mereka masih baru terjun di sini.” Di serta mimik wajah yang, ah you know lah like what…..
Hmm, entah aneh, atau justru menarik? Mengapa KPU menyerahkan tender penyelenggaraan TNP kepada pihak yang masih ‘hijau’?
Saat ingin diricek, ternyata pihak Lakmindonya sedang sibuk semua. (Ngomong-ngomong kantor Laksmindo di TNP lebih mirip tempat on air stasiun TV, karena banyak stasiun TV yang menggelar kameranya disana). Yah, apa boleh buat gagal mendapat informasi yang cover both deh.
Jelang sore, TNP makin ramai. Tidak hanya wartawan, tetapi caleg dan atau para tim suksesnya juga datang untuk melihat perolehan suara mereka. Salah satu caleg popular yang datang hari hari itu adalah ‘Si Pening Poltak’ Ruhut Sitompul. Mereka tidak tahu ya? Kan hasil tabulasi bisa dilihat secara real time di situs www.tnp.kpu.go.id (walaupun memang kadang-kadang suka dodol situsny). Puas bergaya dan dapat berita, akhirnya bergegas pulang (soalnya harus ngajar hehehe). Beberapa hari kemudian, seorang teman memberi tahu lewat chat di facebook. Katanya dia melihat saya tersorot kamera TvOne. Alaah, ada-ada saja……