Mimpi…..
Semuanya berawal pasca Piala Dunia 1998, saat tuan rumah Prancis untuk kali pertama menggondol piala dunia. Saya membeli koran – lebih tepatnya tabloid – Bola, salah satu media olah raga top saat itu. Tidak ada yang luar biasa. Karena tabloid sepak bola, maka isi mayoritas soal sepak bola. Topik? Apalagi kalau bukan euforia Prancis yang jadi kampium kala itu.
Saat itu saya masih kelas satu smp. Masa dimana si jati diri sedang dicari sejadi-jadinya. Jadi diri sebagai remaja cowok, tepatnya. Maka mulailah saya menginventarisasi model-model mana yang saya ikuti. Hasilnya saya beranggapan boy supposed to fanatic on football, and Iwan Fals. Dan hingga sekarang, dua atribut itu tidak kunjung lekang pada diri ini.
Berbicara tentang sepakbola, sebetulnya bukan dari smp, melainkan dari sd saya pertama kali mengenai olahraga ini. Saat duduk dikelas enam, saya mendapatkan tekanan sosial untuk menyukai olahraga mengolah kulit bundar ini. Mulai dari bermain bola di jam istirahat, sampai terkantuk-kantuk menonton siaran langsung liga Italia.
Namun, di SMP lah sepakbola ini berubah menjadi hobi. Bermain sepak bola setiap hari. Ngobrol tentang bola setiap hari dengan teman-teman. Yah, seperti itulah masa-masa SMP dulu.
Kembali ke awal, ke Piala Dunia dan koran bola. Obsesi masa remaja membuat saya rela menabung, menyisihkan uang saku saya yang hanya Rp. 500 perhari untuk bisa membeli secara rutin tabloid tadi (harga ecerannya waktu itu Rp 2500). Saat itu saya melihat, asyik sekali menjadi wartawan. Bisa keliling dunia, bertemu dengan bintang-bintang kenamaan sepak bola. Naif memang terdengarnya sekarang. Tapi itu bisa menjadi alasan yang sangat logis bagi anak smp. Maka, mulai dari momen itu, perlahan terkristal cita-cita saya untuk menjadi wartawan, wartawan olah raga tepatnya. Dan saat duduk di tahun terakhir smp, saya bersama teman-teman dekat lainnya mendeklarasikan cita-cita kami untuk menjadi kuli, kuli tinta atau kuli disket.
Beranjak ke SMA, cita-cita saya tidak surut. Malah selalu terlantang dengan bangga. Meski menurut orang saya tidak konsisten karena tidak bergabung di ekskul mading/koran sekolah, tapi saya tidak peduli. Saat itu sendiri saya bergabung dengan Rohis. Dan tugas saya juga tidak ada hubungannya dengan bidang jurnalistik, mengurusi taman bacaan.
Di SMA ini hasrat saya aktif diorganisasi tumbuh dan melesat. Selain aktif di Rohis, saya juga merupakan pengurus OSIS. Selain beroganisasi, kecintaan saya akan sastra juga mulai tumbuh di sini, terutama sastra puisi. Tapi tetap saja, wartawan adalah cita-cita di dasar hati.
Selama 3 tahun di SMA, terus saya konsisten mengatakan ingin menjadi jurnalis kepada dunia. And they admit it. Saat ditanya minat meneruskan ke mana setelah lulus, jurnalistik atau komunikasi pasti jawab saya. Namun, pada saat SPMB saya tidak memilih jurusan komunikasi sebagai pilihan, karena tidak yakin bisa tembus. Saya milih Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dan Sastra Indonesia UI (dulu UI masih gabung di SPMB). Alasannya sederhana. Waktu libur sekolah saya pernah jadi volunter di Komnas PA. Dan langsung jatuh cinta pada dunia itu, dunia kesejahteraan sosial. Sastra Indonesia? Kecintaan saya akan puisilah alasannya.
Tapi hal itu tidak menyurutkan mimpi saya untuk menjadi jurnalis. Banyak orang yang menguatkan bahwa tidak perlu kuliah di jurusan jurnalis, yang penting rajin menulis. Itu saja cukup. Dan saya berjalan dengan mempercayai itu. Akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial.
Empat setengah tahun menuntut ilmu di sana dan sangat berkesan. Banyak pengalaman dan hal-hal baru yang saya dapatkan. Citapun jadi menggunung. Jurnalis memang selalu dihati, tetapi sayap-sayap mulai memeluk mimpi yang lain. Menjadi jurnalis memang tetap di hati, tetapi mimpi-mimpi lain yang menyesaki ruang cita menenggelamkan itu. Sehingga saat tersadar, jadi wartawan tidak lagi menjadi prioritas. Saya ingin menjadi sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bekerja di bidang yang saya geluti selama empat setengah tahun. Perlahan pasti mimpi ini menjadi kekhawatiran untuk melanjutkan cerita di fase berikutnya setelah kelulusan. Kekhawatiran akan tidak berjodoh bekerja di bidang yang sesui dengan cita dan mimpi.
Namun, jodoh memang memiliki cara yang aneh. Di saat hasrat menjadi wartawan menipis, bahkan gaung dan sensasinya tidak lagi menyita perhatian di rongga hati……….tiba-tiba tawaran untuk itu datang. Saya diterima menjadi seorang reporter di sebuah surat kabar nasional.
Tidak dinyana, setelah saya tinggalkan beberapa tahun belakangan ini, mimpi itu masih setia mengetuk pintu langit untuk minta diwujudkan. Dan doa pun terkabul. Mimpi menjadi seorang wartawan di masa kecil menjadi kenyataan. Dalam dunia di dalam kepala ini, Saya berdiri di masa sekarang, menengok ke belakang. Ke mimpi sepuluh tahun yang lalu. Menghampiri sosok bocah remaja yang bercita manjadi wartawan karena terlalu sering membaca koran olahraga dan menepuk-tepuk pundaknya sambil berkata: Mimpi itu ternyata menjadi nyata! Betul-betul jadi nyata!
I’m Journalist now!
zahrotu syitaa berkata,
April 16, 2009 @ 8:36 am
subhanallah…
senangnya meraih mimpi…
kuharap Allah mengizinkanku juga…