Arsip untuk April, 2009

UU dan BP Migas

Banyak kontrak karya migas atau kontrak yang ditandatangani antara perusahaan yang akan melakukan eksplorasi minyak dan gas dengan badan pengelola migas Indonesia, BP Migas, yang menimbulkan multitafsir.

Maksud multitafsir di sini adalah, kontrak tersebut tidak menjelaskan dengan rinci beberapa pasalnya sehingga pasal-pasal tersebut banyak yang ditafsirkan menurut kepentingan perusahaan pemegang kontrak tersebut. Artinya, manifestasi dari tafsiran tersebut adalah yang menguntungkan pemegang kontrak yang otomatis jadi merugikan Negara.

Salah satu masalah yang paling kencang soal masalah multitafsir kontrak adalah mengenai pasal tentang cost recovery. Cost recovery sendiri adalah biaya talangan untuk melakukan eksplorasi dan membuat sumur migas oleh perusahaan pemegang kontrak yang kelak harus diganti oleh pemerintah. Sejak tahun 2008, BPK sudah mencium ketidakberesan seputar cost recovery ini. BPK RI mensinyalir banyak biasa cost recovery yang luar biasa membengkak sehingga Negara harus membayar lebih dari kewajiban yang seharusnya.

Bila cost recovery itu biaya untuk produksi sumur minyak, apakah biaya Corporate Social Responsibility (CSR) juga harus dimasukan? Padahal CSR sendiri merupakan tanggung jawab dari perusahaan yang bersangkutan. Jangan-jangan biaya entertain para direksi pemegang kontrak karya juga masuk ke dalam cost recovery?

BPK sudah mengadu ke KPK, dan laporan ini juga akhirnya sudah sampai ke Senayan. Pihak yang paling di sorot adalah BP Migas sebagai pihak yang melakukan perjanjian kontrak. BP Migas dinilai tidak detail dalam membuat kontrak sehingga kocek Negara bolong-bolong untuk membayar cost recovery.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, biang masalah ini adalah UU Migas nasional yang penuh dengan lubang. Jika landasan konstitusionalnya saja sudah cacat, tentu produk turunannya, seperti kontrak karya migas, juga pasti jadi tidak beres. Kurtubi tegas mengatakan hapus UU itu, dan ganti dengan yang baru yang lebih baik.

Selain UU yang harus dihapus, BP Migas juga lebih baik dibubarkan menurut Kurtubi. Kurtubi menilai BP Migas merupakan lembaga banci. Dia mengelola migas, tetapi tidak boleh ambil untung. Padahal seharusnya BP Migas itu profit oriented untuk mengelembungkan kas Negara, bukan menjebolnya. Biar nanti fungsi BP Migas ada pada Pertamina yang akan bertindak sebagai regulator sekaligus operator.

Komentar bertahan »

Balada Pencari Berita Newbee

Waktu dikasih tugas untuk mencari pendapat ahli soal kasus salah ketiknya Bakrie, itu hari Minggu sekitar jam 5. Waktu itu saya tidak sadar kalau berita itu untuk hari selasa tanggal 21 April. Saya kira tanggal 21 April itu hari Senin. Dan parahnya lagi, saat itu saya lupa kalau hari Minggu. Dengan PD-nya mengontak beberapa kantor ahli. Jelas saja tidak ada yang menjawab!

Setelah sempat panik, akhirnya tersadar juga semua ketidaksadaran itu. Dengan jauh lebih rileks, saya mulai mengumpulkan daftar ‘buruan’. Target untuk besok di-hunting adalah markas pasca sarjana Akuntansi di Salemba. Sasarannya: ketua program atau salah satu guru besar di sana. Sebagai cadangan, bisa ketua Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) atau pengurus lainnya.

Esok paginya…

“Hallo, saya Wiwiet dari Koran Jakarta, bisa bicara dengan ibu……….untuk wawancara soal revisi laporan keuangan korporasi?”
Di ujung sana menjawab “Oh, ibu hari ini tidak ada. Sebaiknya, mengirim surat permohonan, nanti biar ibu liat, diterima atau tidak.”

Selesai. Gagal. Pelajaran penting mengontak narasumber: JANGAN BILANG MAU WAWANCARA. Bilang saja ada yang mau ditanyakan.

Usaha ke dua: Guru Besar

“Hallo, saya Wiwiet dari Koran Jakarta, Bapak….ada? Saya ingin meminta pendapat beliau sebagai ahli terkait masalah revisi keuangan korporasi.”

Si seberang menjawab “Wah, hari ini bapak ada acara di luar. Saya coba hubungi, nanti saya informasikan lagi ya.”

Hati sudah berbinar mendengar jawaban itu. Dan tinggalah menunggu. 15 menit lewat. 30 menit lewat, hp belum juga berdering. Akhirnya hati menyuruh untuk menelpon lagi. Dan hasilnya? Ah, mungkin belum jodoh. Sang sekertaris tidak bisa menghubungi nara sumber itu, jadi tidak bisa diminta konfirmasi.

Jika sudah begini, mau menggerutu juga percuma. Pilihan terbaik adalah diam dan cari nara sumber baru.

Pilihan berikutnya jatuh pada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Syukur bisa dapat Ketua atau sekjennya. Begitu ditelpon, saya dilempar ke Institut Akuntan Profesional Indonesia (IAPI) karena menurut orang IAI, IAPI lebih cocok memberi komentar soal etika akuntan.

Singkat cerita, saya berhasil menghubungi sekertaris ketua IAPI, tetapi (seperti biasa), sang sekertaris butuh konformasi dari Ketua IAPI Ibu Tia S dan diminta menghubungi lagi nanti. Lama ditunggu, kabar yang dinanti belum juga datang. Akhirnya, saya memutuskan untuk memcari informan alternatif kalau-kalau ketua IAPI tidak bisa dihubungi. Pilihan jatuh pada ketua IAI cabang Jakarta. Begitu dihubungi, orangnya tidak ada ditempat, tetapi sekertarisnya bilang lebih baik bertanya ke IAI dengan Bapak Yakub (duh dilempar lagi….)

Syukurnya, pak Yakub bersedia ditemui dikantornya jam 3 sore. Dan, tidak lama kemudian, datang kabar dari IAPI bahwa Ibu ketuanya minta dihubungi sekitar jam 4 sore. Yes, alhamdulillah! Tidak sia-sia dilempar-lempar

Kemudian saya segera meluncur ke Menteng, kantor IAI untuk bertemu Pak Yakub. Manajer divisi teknis IAI ini kemudian menjelaskan perihal etika revisi laporan keuangan perusahaan. Dia menjelaskan sangat detail, penuh dengan istilah akuntansi. Huhuhu, saya hanya bisa mengangguk-angguk sok mengerti manakala beliau jelaskan soal istilah-istilah tersebut. Sejujurnya, saya sama sekali tidak mengerti……….Tapi gambaran besar penjelasannya bisa saya cernah (Cuma perbendaharaan istilah saja yang bikin saya mati gaya)

Selesai dengan IAI, sekarang dengan IAPI. Saat dihubungi, ternyata Ibu Tia langsung meladeni di telepon (that means I don’t have to go to her office, yeah!). Walaupun sempat diajar muter-muter, Ibu Tia langsung menebak perkara yang saya tanyakan adalah masalah Bakrie. Hebat! (atau wajar dia tahu ya?)

Huff, gelisah dari pagi karena belum dapat narasumber akhirnya berakhir dengan happy ending. Dan laporan, ups! maksudnya berita, pun ditulis. Tinggal menunggu esok terbit. Tetapi, yah tidak selalu keinginan kita muluskan? Besoknya ternyata usaha saya seharian tidak masuk kedalam pemberitaan. Huhuhuhu, sedih dan sedikit kecewa….

Hiks, pak editor, besok-besok diterbitkan ya tulisan saya…..

Komentar bertahan »

Sok Gaya di Pusat Tabulasi Nasional

Euforia pemilu masih panjang. Pasca ‘peristiwa bersejarah’ pencontrengan Pemilu 9 April lalu, yang hot yang tentu hasil seremonis nasional setengahwinduaan ini.

Setelah hasil hitung cepat keluar dan selesai (yang mana dari pada hasilnya anda sesungguhnya suda mengetahuinya), maka kini giliran real count (atau hitung nyata?). KPU memusatkan penghitungan real yang diberinama pusat tabulasi nasional pemilu (TNP) ini di Hotel Borobudur, sama seperti 5 tahun lalu.

Singkat cerita, oleh redaktur diberi tugas ke sana. Lumayan keren. Jarang-jarang bisa ke datang pusat tabulasi. Masuk sebagai pers (dapat name tag lagi hehehe), lalu main goda-godaan sebentar dengan recepsionisnya. Begitu sampai ke ruangan, ternyata masih sepi (entah sudah atau sedang sepi?). Ruangan berbentuk aula itu masih lenggang, paling yang ramai ada di dua meja panjang yang terdapat kurang lebih 28 unit komputer untuk menjelajahi data hasil pemilu (seharusnya) dan menjelajahi dunia maya (kenyataannya).

Karena ditugaskan hunting on the spot, mencari berita apa saja yang ada di tempat, melihat kondisinya seperti ini, bisa dipastikan bakalan mati gaya. Sambil keliling-keliling ruangan, mampir ke bilik sebelah. Ternyata kantin dan …….ahhhh, boleh makan gratis! Kelihatannya enak pula! Hiks, padahal sebelum berangkat sudah makan dari rumah. Sudah penuh lambung ini hingga gerombolan cacing pun tak berhasrat mendemo. Mau menuruti hawa nafsu? Ah, forgot it. Orang Yahudi itu makannya dua kali porsi orang Muslim. I wont be neither Jew nor they habit.

Saat lagi asyik duduk-duduk menunggu Ilham (ngapain juga ya si Ilham ditungguin), tiba-tiba ada yang mendekati.
“Emmm, Wiwiet bukan? Dari Koran Jakarta kan?” tanyanya ramah

Oh, senior ternyata, ID Press nya yang bilang begitu.
“Iya, mba, lho mba lagi ngeliput di sini juga?” pura-pura sok akrab (padahal lupa namanya!).

Setelah ngobrol-ngobrol, namanya Chacha (and she request not to add mba when call her). Chacaha sedang ditugasi untuk membuat feature yang terkait dengan Pusat Tabulasi Nasional ini. Terinspirasi Chacha, saya kemudian bertanya ke resepsionis perihal ketua Media Center (soalnya baca berita di internet, pak kepala media center ini yang paling sering ditanyai). Lalu kemudian di antarlah ke tempat Media Centre-nya.
Walaupun ketuanya tidak ada, yang penting ada anggotanya untuk dikilik berita. Pertama-tama, bertanya kok TNP jam 11 malam sudah ditutup, lalu kanapa data yang masuk lama sekalia, konon operatornya kurang? Sialnya, petugas Media Center itu menolak menjawab lantara itu bukan ranah mereka. Tugas Media Centre adalah memfasilitasi para kuli tinta informasi yang menyangkut data hasil tabulasi. Bila menyoal pada teknis penginputan data dan penyelenggaraan TNP ini, itu merupakan tanggung jawab pihak lain.

Dari anggota Media Center KPU ini, saya baru tahu kalau penyelenggara TNP adalah pihak ketiga. KPU menunjuk sebuha event organizer untuk menyelenggarakannya. Sementara soal teknis pemasukan data dan teknologinya, itu urusan Telkom dan BPPT.

Tapi ada cerita menarik nih soal EO TNP, Si Laksmindo ……. (lupa kepanjangannya). Jadi, sepertinya antara Media Centre KPU dan Laksmindo there were missing link. Ada, entah itu salah komunikasi atau salah persepsi. Menurut, Media Centre, sebagai penyelenggara, seharusnya Laksmindo punya desk khusus untuk meladeni wartawan atau siapapun itu yang mencari berita dan informasi. Nyatanya mereka tidak punya, dan Media Centre KPU kemudian ditugaskan untuk mem-back up hal ini.

Dari perbincangan saya dengan beberapa anggota Media Centre, expression given off mereka terlihat kalau mereka kurang respek, minimal komunikasinya berjalan kurang lancar. Ini memang opini, makanya tidak layak ditulis sebagai berita. But, sure, it clear enough that Media Center officers has an unrespectable perspective with the EO. Dari mereka juga saya tahu bahwa EO TNP merupakan pemain baru dalam penyelenggarakan even pemilu. Makanya, saat saya bilang ingin bertanya lebih jauh salah seorang petugas Media Center mengatakan “Jangan terlalu berharap banyak mereka bisa menjawab. Soalnya mereka masih baru terjun di sini.” Di serta mimik wajah yang, ah you know lah like what…..

Hmm, entah aneh, atau justru menarik? Mengapa KPU menyerahkan tender penyelenggaraan TNP kepada pihak yang masih ‘hijau’?

Saat ingin diricek, ternyata pihak Lakmindonya sedang sibuk semua. (Ngomong-ngomong kantor Laksmindo di TNP lebih mirip tempat on air stasiun TV, karena banyak stasiun TV yang menggelar kameranya disana). Yah, apa boleh buat gagal mendapat informasi yang cover both deh.

Jelang sore, TNP makin ramai. Tidak hanya wartawan, tetapi caleg dan atau para tim suksesnya juga datang untuk melihat perolehan suara mereka. Salah satu caleg popular yang datang hari hari itu adalah ‘Si Pening Poltak’ Ruhut Sitompul. Mereka tidak tahu ya? Kan hasil tabulasi bisa dilihat secara real time di situs www.tnp.kpu.go.id (walaupun memang kadang-kadang suka dodol situsny). Puas bergaya dan dapat berita, akhirnya bergegas pulang (soalnya harus ngajar hehehe). Beberapa hari kemudian, seorang teman memberi tahu lewat chat di facebook. Katanya dia melihat saya tersorot kamera TvOne. Alaah, ada-ada saja……

Komentar bertahan »

Feel like Stupid One

First assignment! Should be an interesting moment! Kelihatannya bonafid lagi. Meliput di Bursa Efek Indonesia. (cieeee) Statusnya, sebagai pers resmi dong. Bukan sebagai mahasiswa yang lagi studi banding

Walaupun cuma bertandem dengan wartawan senior, tapi cukuplah dongkrak harga diri. Melangkah dengan bangga ke gedung BEI, kemudia meluncur ke press room. (dalam bayangan kirain tuh keren. Lega, banyak computer, dll lah). Tapi agak kaget. Ternyata ukurannya cuma dua kali kamar kos nyokap. Ah, penantian satu jam diparkiran (percaya gk? Saya harus mengantri kurang lebih sejam untuk bisa masuk tempat parkir!)

Masuk ke ruang pers, ada beberapa wartawan lain. Tapi karena belum kenal, sok cuek aja. Hidupin laptop, dan berselancar. Radius sejam berikutnya, rekan tandeman akhirnya datang juga. Ternyata dia kenal semua sama wartawan yang ada di sini. Mereka sering bertemu ketika meliput atau mencari berita di BEI. Akhirnya berkenalan ria dululah di sini.

Tandam saya, bang Hotman – biasa dipanggil begitu, bilang nanti ada acara informal antar pialang jam 7 malam dan mungkin baru selesai jam 9. Saat itu jam masih menunjukan pukul setegah 11 pagi. Satu hal yang langsung teringat adalah parkir. Tarif parkirnya satu jam 1000. Haaaaahhhhhh!!!!! Harus bayar berapa nanti! (hiks)

Meski tujuannya meliput acara nanti malam, tetapi ada informasi yang harus dicari bang Hotman – dan teman-teman wartawan lain ke direksi BEI, syukur-syukur bisa ketemu sama pak direkturnya.

Dateng ke kantor PT BEI di lantai 6 menara B gedung BEI, ternyata bapak direktu sedang pergi ke Bandung. Sedangkan jajaran direksi yang lain sudah turun untuk makan siang dan sholat Jumat. So, like or not, ‘pencarian’ ditunda sampai ba’da Jumat. Sholat Jumat di sini aneh banget. Tempatnya yang aneh maksudnya, bukan sholat Jumatnya. Di parkiran dan mengikuti jalur parkiran yang berkelok-kelok. Wiuuuhh! Dasar! Mo nge-date sama Tuhan, tapi tempatnya seolah tidak niat…..

Tanpa dinyana, waktu mengambil air wudhu, bertemu dengan pak Imam Prasojo. Sadang apa sosiolog kondang itu ditempat ini? Mungkin sedang riset pengaruh krisis ekonomi global dengan tetap maraknya konsumerisme dikalangan jet zet (lho apa hubungannya?)

Selesai jumatan dan makan, bersama rekan-rekan wartawan lain langsung menuju ke lantai 6, kantor BEI. Ternyata direksi belum juga datang.

Aku Merasa Bodoh

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Meet Mr. Edy Sutanto, direksi BEI ini konon sedang dijagokan niat pangkat menjadi direktur BEI pada periode berikutnya. Singkat kata, singkat cerita, dimulailah para ‘lalat pers’ ini mengerubungi Pak Edy. Bermacam pertanyaan pun dilontarkan, mulai dari masalah akuisisi Bumi, sampai laporan kinerja Bakrie.

Saat mereka semua asyik bertanya, dan si nara sumber (dengan sok cool) menjawab. Saya hanya berdiri diam dalam kerumunan itu. Sambil tersenyum mendengar pertanyaan atau jawaban yang membuka simpul senyum. Tapi hanya itu. Hanya obrolan-obrolan santai dan joke-joke garing yang bisa otak ini cerna.

Dalam 5 tahun perjalan intelektual, baru kali ini, ya, baru kali ini saya merasa benar-benar bodoh. Bodoh karena saya sama sekali tidak mengerti apa yang kerumunan ini bicara. Saya tidak mengerti esensi pertanyaan-pertanyaan yang meluncur. Apalagi untuk membedah maksud jawaban-jawaban yang keluar.

Mereka bisa soal akuisisi, soal fairness opinion, laporan keuangan, neraca ini, saham itu…bah! Mana pula aku mengerti! I……just could kept smiling, and laugh sometimes, while the interview. Let them supposed me understand.. Jangankan bertanya atau memberi tanggapan. Mengambil gambaran utuh dari topik yang sedang ditanyakan saja tidak mampu. To be honest…….hanya kurang dari 10% isi wawancara yang bisa dilahap otak ini.

I consider that there lies mountain we can’t climb, or at least won’t suitable enough for us. And that mountain is here. Mountain that called economic field. Geez, for years I deny this field since high school. I throw chance to study in economy and pick social study just because I love it, even people say social field was a dry land. No problem, I life for happiness, not for wealth ness.

For years I train my brain just to fit in onto socialize. Sometimes I feed it with literature. I satisfied with that. A world that talk about you and other, about ideal life. Not about money and earn benefit. Sudah cukup curhatnya. Yah, dunia yang saya tidak ingin masuki sejak SMA, tiba-tiba sekarang saya (harus) berada di sana. Menggali dan mencari kisi-kisi menarik untuk diberitakan. Huhuhu, tantangan batin yang cukup berat.

Dan, waktu kemudian membawa mentari terlelap. Jam 7. Acara pertemuan para pialang itu dimuali. Kongkow-kongkow nama acaranya. Tidak jauh beda dengan acara diskusi santai. Acaranya diselenggarakan di sebuah café didekat BEI. Bang Hotman sudah bilang, kalau enggak dapat makan, pulangnya cepat aja (hehehe). Hmmm, lumayan, dapat soft drink sama makanan ringan (Ow, they have a great tela! Very delicious!). Dan ketika diskusi dimulai, berjalan hingga hamper selesai, mata ini hanya bisa menangkap gambaran visual mereka, tapi otak belum juga mampu mencerna. Sama seperti wawancara tadi, ketidakmengertian menjadi selubung gelap dibalik batok kepala.

Hiks….hiks…bapak redaktur yang terhormat…jangan tempat kan saya di ekonomi…..

Komentar bertahan »

Mimpi…….

Mimpi…..

Semuanya berawal pasca Piala Dunia 1998, saat tuan rumah Prancis untuk kali pertama menggondol piala dunia. Saya membeli koran – lebih tepatnya tabloid – Bola, salah satu media olah raga top saat itu. Tidak ada yang luar biasa. Karena tabloid sepak bola, maka isi mayoritas soal sepak bola. Topik? Apalagi kalau bukan euforia Prancis yang jadi kampium kala itu.

Saat itu saya masih kelas satu smp. Masa dimana si jati diri sedang dicari sejadi-jadinya. Jadi diri sebagai remaja cowok, tepatnya. Maka mulailah saya menginventarisasi model-model mana yang saya ikuti. Hasilnya saya beranggapan boy supposed to fanatic on football, and Iwan Fals. Dan hingga sekarang, dua atribut itu tidak kunjung lekang pada diri ini.

Berbicara tentang sepakbola, sebetulnya bukan dari smp, melainkan dari sd saya pertama kali mengenai olahraga ini. Saat duduk dikelas enam, saya mendapatkan tekanan sosial untuk menyukai olahraga mengolah kulit bundar ini. Mulai dari bermain bola di jam istirahat, sampai terkantuk-kantuk menonton siaran langsung liga Italia.

Namun, di SMP lah sepakbola ini berubah menjadi hobi. Bermain sepak bola setiap hari. Ngobrol tentang bola setiap hari dengan teman-teman. Yah, seperti itulah masa-masa SMP dulu.

Kembali ke awal, ke Piala Dunia dan koran bola. Obsesi masa remaja membuat saya rela menabung, menyisihkan uang saku saya yang hanya Rp. 500 perhari untuk bisa membeli secara rutin tabloid tadi (harga ecerannya waktu itu Rp 2500). Saat itu saya melihat, asyik sekali menjadi wartawan. Bisa keliling dunia, bertemu dengan bintang-bintang  kenamaan sepak bola. Naif memang terdengarnya sekarang. Tapi itu bisa menjadi alasan yang sangat logis bagi anak smp. Maka, mulai dari momen itu, perlahan terkristal cita-cita saya untuk menjadi wartawan, wartawan olah raga tepatnya. Dan saat duduk di tahun terakhir smp, saya bersama teman-teman dekat lainnya mendeklarasikan cita-cita kami untuk menjadi kuli, kuli tinta atau kuli disket.

Beranjak ke SMA, cita-cita saya tidak surut. Malah selalu terlantang dengan bangga. Meski menurut orang saya tidak konsisten karena tidak bergabung di ekskul mading/koran sekolah, tapi saya tidak peduli. Saat itu sendiri saya bergabung dengan Rohis. Dan tugas saya juga tidak ada hubungannya dengan bidang jurnalistik, mengurusi taman bacaan.

Di SMA ini hasrat saya aktif diorganisasi tumbuh dan melesat. Selain aktif di Rohis, saya juga merupakan pengurus OSIS. Selain beroganisasi, kecintaan saya akan sastra juga mulai tumbuh di sini, terutama sastra puisi. Tapi tetap saja, wartawan adalah cita-cita di dasar hati.

Selama 3 tahun di SMA, terus saya konsisten mengatakan ingin menjadi jurnalis kepada dunia. And they admit it. Saat ditanya minat meneruskan ke mana setelah lulus, jurnalistik atau komunikasi pasti jawab saya. Namun, pada saat SPMB saya tidak memilih jurusan komunikasi sebagai pilihan, karena tidak yakin bisa tembus. Saya milih Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dan Sastra Indonesia UI (dulu UI masih gabung di SPMB). Alasannya sederhana. Waktu libur sekolah saya pernah jadi volunter di Komnas PA. Dan langsung jatuh cinta pada dunia itu, dunia kesejahteraan sosial. Sastra Indonesia? Kecintaan saya akan puisilah alasannya.

Tapi hal itu tidak menyurutkan mimpi saya untuk menjadi jurnalis. Banyak orang yang menguatkan bahwa tidak perlu kuliah di jurusan jurnalis, yang penting rajin menulis. Itu saja cukup. Dan saya berjalan dengan mempercayai itu. Akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Empat setengah tahun menuntut ilmu di sana dan sangat berkesan. Banyak pengalaman dan hal-hal baru yang saya dapatkan. Citapun jadi menggunung. Jurnalis memang selalu dihati, tetapi sayap-sayap mulai memeluk mimpi yang lain. Menjadi jurnalis memang tetap di hati, tetapi mimpi-mimpi lain yang menyesaki ruang cita menenggelamkan itu. Sehingga saat tersadar, jadi wartawan tidak lagi menjadi prioritas. Saya ingin menjadi sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bekerja di bidang yang  saya geluti selama empat setengah tahun. Perlahan pasti mimpi ini menjadi kekhawatiran untuk melanjutkan cerita di fase berikutnya setelah kelulusan. Kekhawatiran akan tidak berjodoh bekerja di bidang yang sesui dengan cita dan mimpi.

Namun, jodoh memang memiliki cara yang aneh. Di saat hasrat menjadi wartawan menipis, bahkan gaung dan sensasinya tidak lagi menyita perhatian di rongga hati……….tiba-tiba tawaran untuk itu datang. Saya diterima menjadi seorang reporter di sebuah surat kabar nasional.

Tidak dinyana, setelah saya tinggalkan beberapa tahun belakangan ini, mimpi itu masih setia mengetuk pintu langit untuk minta diwujudkan. Dan doa pun terkabul. Mimpi menjadi seorang wartawan di masa kecil menjadi kenyataan. Dalam dunia di dalam kepala ini, Saya berdiri di masa sekarang, menengok ke belakang. Ke mimpi sepuluh tahun yang lalu. Menghampiri sosok bocah remaja yang bercita manjadi wartawan karena terlalu sering membaca koran olahraga dan menepuk-tepuk pundaknya sambil berkata: Mimpi itu ternyata menjadi nyata! Betul-betul jadi nyata!

I’m Journalist now!

Komentar (1) »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Komentar (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.