First assignment! Should be an interesting moment! Kelihatannya bonafid lagi. Meliput di Bursa Efek Indonesia. (cieeee) Statusnya, sebagai pers resmi dong. Bukan sebagai mahasiswa yang lagi studi banding
Walaupun cuma bertandem dengan wartawan senior, tapi cukuplah dongkrak harga diri. Melangkah dengan bangga ke gedung BEI, kemudia meluncur ke press room. (dalam bayangan kirain tuh keren. Lega, banyak computer, dll lah). Tapi agak kaget. Ternyata ukurannya cuma dua kali kamar kos nyokap. Ah, penantian satu jam diparkiran (percaya gk? Saya harus mengantri kurang lebih sejam untuk bisa masuk tempat parkir!)
Masuk ke ruang pers, ada beberapa wartawan lain. Tapi karena belum kenal, sok cuek aja. Hidupin laptop, dan berselancar. Radius sejam berikutnya, rekan tandeman akhirnya datang juga. Ternyata dia kenal semua sama wartawan yang ada di sini. Mereka sering bertemu ketika meliput atau mencari berita di BEI. Akhirnya berkenalan ria dululah di sini.
Tandam saya, bang Hotman – biasa dipanggil begitu, bilang nanti ada acara informal antar pialang jam 7 malam dan mungkin baru selesai jam 9. Saat itu jam masih menunjukan pukul setegah 11 pagi. Satu hal yang langsung teringat adalah parkir. Tarif parkirnya satu jam 1000. Haaaaahhhhhh!!!!! Harus bayar berapa nanti! (hiks)
Meski tujuannya meliput acara nanti malam, tetapi ada informasi yang harus dicari bang Hotman – dan teman-teman wartawan lain ke direksi BEI, syukur-syukur bisa ketemu sama pak direkturnya.
Dateng ke kantor PT BEI di lantai 6 menara B gedung BEI, ternyata bapak direktu sedang pergi ke Bandung. Sedangkan jajaran direksi yang lain sudah turun untuk makan siang dan sholat Jumat. So, like or not, ‘pencarian’ ditunda sampai ba’da Jumat. Sholat Jumat di sini aneh banget. Tempatnya yang aneh maksudnya, bukan sholat Jumatnya. Di parkiran dan mengikuti jalur parkiran yang berkelok-kelok. Wiuuuhh! Dasar! Mo nge-date sama Tuhan, tapi tempatnya seolah tidak niat…..
Tanpa dinyana, waktu mengambil air wudhu, bertemu dengan pak Imam Prasojo. Sadang apa sosiolog kondang itu ditempat ini? Mungkin sedang riset pengaruh krisis ekonomi global dengan tetap maraknya konsumerisme dikalangan jet zet (lho apa hubungannya?)
Selesai jumatan dan makan, bersama rekan-rekan wartawan lain langsung menuju ke lantai 6, kantor BEI. Ternyata direksi belum juga datang.
Aku Merasa Bodoh
Akhirnya yang ditunggu datang juga. Meet Mr. Edy Sutanto, direksi BEI ini konon sedang dijagokan niat pangkat menjadi direktur BEI pada periode berikutnya. Singkat kata, singkat cerita, dimulailah para ‘lalat pers’ ini mengerubungi Pak Edy. Bermacam pertanyaan pun dilontarkan, mulai dari masalah akuisisi Bumi, sampai laporan kinerja Bakrie.
Saat mereka semua asyik bertanya, dan si nara sumber (dengan sok cool) menjawab. Saya hanya berdiri diam dalam kerumunan itu. Sambil tersenyum mendengar pertanyaan atau jawaban yang membuka simpul senyum. Tapi hanya itu. Hanya obrolan-obrolan santai dan joke-joke garing yang bisa otak ini cerna.
Dalam 5 tahun perjalan intelektual, baru kali ini, ya, baru kali ini saya merasa benar-benar bodoh. Bodoh karena saya sama sekali tidak mengerti apa yang kerumunan ini bicara. Saya tidak mengerti esensi pertanyaan-pertanyaan yang meluncur. Apalagi untuk membedah maksud jawaban-jawaban yang keluar.
Mereka bisa soal akuisisi, soal fairness opinion, laporan keuangan, neraca ini, saham itu…bah! Mana pula aku mengerti! I……just could kept smiling, and laugh sometimes, while the interview. Let them supposed me understand.. Jangankan bertanya atau memberi tanggapan. Mengambil gambaran utuh dari topik yang sedang ditanyakan saja tidak mampu. To be honest…….hanya kurang dari 10% isi wawancara yang bisa dilahap otak ini.
I consider that there lies mountain we can’t climb, or at least won’t suitable enough for us. And that mountain is here. Mountain that called economic field. Geez, for years I deny this field since high school. I throw chance to study in economy and pick social study just because I love it, even people say social field was a dry land. No problem, I life for happiness, not for wealth ness.
For years I train my brain just to fit in onto socialize. Sometimes I feed it with literature. I satisfied with that. A world that talk about you and other, about ideal life. Not about money and earn benefit. Sudah cukup curhatnya. Yah, dunia yang saya tidak ingin masuki sejak SMA, tiba-tiba sekarang saya (harus) berada di sana. Menggali dan mencari kisi-kisi menarik untuk diberitakan. Huhuhu, tantangan batin yang cukup berat.
Dan, waktu kemudian membawa mentari terlelap. Jam 7. Acara pertemuan para pialang itu dimuali. Kongkow-kongkow nama acaranya. Tidak jauh beda dengan acara diskusi santai. Acaranya diselenggarakan di sebuah café didekat BEI. Bang Hotman sudah bilang, kalau enggak dapat makan, pulangnya cepat aja (hehehe). Hmmm, lumayan, dapat soft drink sama makanan ringan (Ow, they have a great tela! Very delicious!). Dan ketika diskusi dimulai, berjalan hingga hamper selesai, mata ini hanya bisa menangkap gambaran visual mereka, tapi otak belum juga mampu mencerna. Sama seperti wawancara tadi, ketidakmengertian menjadi selubung gelap dibalik batok kepala.
Hiks….hiks…bapak redaktur yang terhormat…jangan tempat kan saya di ekonomi…..